Rabu, 24 Oktober 2012

Kesenian Teater yang Berasal dari Lampung


Pendahuluan
Lampung memiliki teater tradisional yang disebut  atau We. adalah sejenis teater tradisional yang dapat dianggap sebagai embrio teater modern di daerah Lampung. Di tengah dunia yang serba digital bagaimana keberadaannya kini?  Apakah  bisa bersaing dengan kesenian pop yang menggelontor lewat layar kaca dan virtual hingga ke pekon-pekon. Teater tradisional merupakan sebuah  bentuk teater asli ----yang bersumber dan berakar pada bumi Indonesia--- telah dirasakan dan dimiliki masyarakat lingkungannya, dan dapat  ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Bahasa pengantar dalam pertunjukan  biasanya menggunakan bahasa daerah setempat. Oleh sebab itu, teater tradisional sering juga disebut dengan teater tradisional/daerah.Indonesia memiliki sederet teater tradisional yang hingga kini tetap hidup dan eksis dalam komunitasnya. Misalnya, Didong (Aceh), Bakaba (Sumatera Barat),Dul Muluk (Sumsel), Lenong (Jakarta), Dalang Jemblung (Banyumas),  Ketoprak(Jateng), Ludruk (Jatim),  Arja (Bali), dan  Mamanda (Riau dan Kalimantan). Di daerah Lampung sendiri hingga saat ini  hidup beberapa jenis teater tradisional seperti ludruk, ketoprak, dan lenong yang masing-masing berasal dari daerah asalnya. Sedangkan Lampung memiliki teater tradisional yang disebut  yakni tradisi lisan  yang dituturkan oleh seseorang yang disebut pewarah.

Teater Tradisional dan Budaya Tutur
Sebagai teater tradisional, Warahan banyak menampilkan cerita-cerita dongeng atau cerita rakyat yang berisi nasehat-nasehat dan di sampaikan secara bertutur (penyampian secara lisan). Waktu pertunjukan  biasanya diadakan pada sore hari atau malam hari. Sumber cerita banyak berasal dari cerita rakyat dan amat kaya dengan tema-tema  cerita  yang berunsurkan peristiwa adikodrati. Tema cerita seperti ini kadangkala dianggap di luar logika masyarakat yang sudah  beraksara, serta  sering dinilai tidak  ilmiah. Namun, yang perlu kita petik dari cerita  ini adalah tendensi atau maksudnya. Fungsi utama  pada masa lalu, terutama ketika lembaga sekolah belum sebanyak sekarang, ini dijadikan  sebagai sarana untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak, menantu, cucu dan anggota kerabat lainnya.

Asal -Usul Warahan

Secara etimologis masyarakat Lampung  kurang mengetahui arti dari kata  itu sendiri. Beberapa tokoh masyarakat berpendapat bahwa  dekat pengertiannya dengan kata akhca yang berarti berita atau cerita dan akat akhan yang berarti tujuan atau maksud. Dengan kata lain, lebih kurang kedua kata tersebut memiliki arti “Cerita yang mempunyai arah dan tujuan”.Sebagai sebuah seni pertunjukan lisan,  ini merupakan gabungan beberapa unsur kesenian yaitu, musik, seni sastra, dan seni gerak. Pada awalnya cerita atau berita memiliki tujuan yang khusus disampaikan merupakan petunjuk atau arahan dengan maksud tuntunan dan contoh-contoh perbuatan yang baik. Berasal dari kata “Warah” yaitu nasehat atau ajaran yang menurut cerita dari tokoh atau tua-tua yang berasal dari Jawa yang telah diadaptasi oleh penduduk yang berada di daerah Lampung. Hal ini bisa saja terjadi dan dimungkinkan dengan masa peralihan dan jatuh bangunnya kerajaan Hindu di pulau Jawa yang digantikan kerajaan Islam. Sekira pada abad ke-15 pada waktu itu dengan dianutnya agama Islam oleh penduduk Banten, maka agama Islam diajarkan atau diwarahkan oleh orang-orang Banten yang datang ke daerah Lampung. Berangsur-angsur orang Lampung meninggalkan kepercayaan lamanya dan memeluk agama Islam, sesuai  dengan kata  yang makin memasyakat. Lahirnya pertunjukan  ini ditenggarai sejak orang Lampung mengenal sastra daerah. Cerita yang dibawakan dapat berbentuk pantun, liris, prosa atau bahasa bebas, disertai berbagai kreatifitas dari pewarah yang membawakannya. sebagai teater tradisional kemudian menjadi teater dalam pengertian masa kini yang  mula dari daerah lampung mempunyai fungsi sebagi alat hiburan, alat pendidikan, penerangan, dan sebagai  pembangkit rasa keindahan. Saat ini itu sudah jarang sekali dilakukan di daerah Lampung terutama di kota-kota besar, apalagi para pendukungnya sudah berusia lanjut. Hal ini juga karena kemajuan teknologi komunikasi dan audio visual dan di satu pihak kurangnya perhatian terhadap perkembangan , sehingga makin terdesak. Untuk menyelamatkan ini perlu dibina dan dikembangkan  sebagai sumber inspirasi dalam mengolah teater tardisional maupun modern.

Isi,  Pewarah, dan Waktu Pertunjukan
Pada uraian terdahulu  banyak bertitiktolak pada pendapat atau bersumber pada seniman usia lanjut atau tokoh masyarakat dan sedikit pengalaman. ini dikenal sulit dilacak. Beberapa cerita yang dikenal sering dibawakan oleh sipembawa cerita atau pewarah, seperti: Cerita Anak Dalom, Khaya Ngaka Pitu, Sitamba danRadin Jambat Hangkirat. Pada awalnya cerita  itu disampikan dalam bentuk cerita diawali dengan kata pembukaan yang disebut Sumbah Siah. Biasanya  ini dilakukan pada malam hari menjelang tidur. Kegiatan  ini berasal dari kebiasaan nenek atau kakek setelah lelah bekerja seharian, akan minta diurut kakinya oleh anak cucu. Agar tidak mengantuk si kakek bercerita sesuai dengan keinginan anak cucunya. Sepanjang bercerita biasanya si kakek hanya telungkup, tetapi saat cerita tersebut menggambarkan sesuatu yang istimewa, maka kakek (penutur ) akan bangun dan memperagakan isi cerita. Misalnya, ketika  menggambarkan kecantikan seorang putri, kegagahan seorang pemuda, dan adegan lainnya. Pada masa lalu,  belum menggunakan alat musik khusus sebagai pengiring pertunjukan. Musik dalam pertunjukan  awalnya hanyalah  tepuk tangan dan suara mulut pewarah. Dalam perkembangan selanjutnya pewarah mulai menggunakan properti atau alat musik. Tokoh-tokoh pewarah yang cukup  dikenal pada masa lalu adalah Tamong Bama dan Mamak Barahim. Pewarah ini mulai  diundang dan ditanggap masyarakat terutama pada acara-acara tertentu yang terkait dengan pelaksanaan upacara dangawi adat. Si pewarah duduk bersila dengan pakain rapi di hadapan para pendengar yang melingkar atau mengikuti bentuk arena yang disediakan atau di sediakan tempat khusus yang disebut babakhung atau balai. berupa bentuk bait-bait  pantun lisan yang disampaikan tanpa teks dengan diiringi alat musik khas yaitu gambus lunik. Dengan demikian sipewarah telah menghayati isi cerita yang disampaikan sekaligus si pewarah memulaiwarahannya sesuai pokok penyuluhan (gawi adat). Biasa warahan  ditaja sekira bakda Isya hingga menjelang beduk subuh tiba.

Perkembangan Warahan
Berdasarkan penelitian Dinas Pendidikan dan Kesenian Provinsi Lampung pada tahun 1976 dan 1978, dikategorikan sebagai seni teater tutur. Pada perkembangan berikutnya, salah satu tokoh teater Lampung almarhum BM Gutomo alias Sembrani mencoba menyentuh dan mengolah  ke menjadi sebuah seni pertunjukan rakyat. Pada tahun 1980 ketika digelar   Festival Seni Pertunjukan Tingkat Nasional di Taman Ismail Marzuki(TIM), Jakarta, Lampung menyajikan materi . Pada kesempatan itu Lampung membawakan  yang berjudul “Pemasu” (pemburu) dengan pewarah Mursid Ali. Pada perkembangan berikutnya  teaterawan Lampung Wawan Dharmawan dengan sanggar seni “Beringin Jaya” (dulu)  dan “Lamban Budaya” (kini) terus konsisten mengembangkan . Wawan mengemas Warahan dengan sentuhan Pertunjukan Rakyat. Beberapakali Warahan garapan Wawan ini berjaya di Festival Pertunjukan RakYat (Jukra) tingkat nasional  yang ditaja era  Departemen Penerangan belum dilikuidasi. Sekain itu, secara rutin Wawan dan Grup Lamban Budaya rutin mengisi warahan di TVRI SPK Lampung. Selain itu, masih ada Jalu Mampang dengan teater “Jaman”nya yang rajin menularkan konsep warahan pada komunitas teater pelajar Lampung. Terkini,  Teater Satu (Bandar Lampung) yang dimotori Iswadi Pratama terus mengolah warahan dalam sentuhan dramaturgi modern. Ruh “tradisi” warahanyang konsisten disuntikkan  Iswadi Pratama selaku sutradara  dalam setiap garapannya ini menjadikan “Teater Satu” yang dipimpinnya punya karakter dan  berbeda dengan teater modern lainnya. Teater yang pernah menyabet juara ketiga Festival Teater Alternatif yang ditaja TIM dan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) ini, kini merupakan salah satu teater potensial di Indonesia dan cukup diperbincangkan. Selain itu, kiprah Teater Satu makin mantap,  beberapa kali  pentas di Teater Utan Kayu (TUK), Taman Ismail Marzuki (TIM), Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) juga di beberapa kota seperti Tegal, Solo, Bandung, Makasar dan mendapat dana hibah dari Yayasan Kelola.

Bentuk Penyajiannya
Teater merupakan salah satu bentuk seni yang bersumber dari materi gerak dan suara yanterpadu, yang diekpresikan lewat laku dan dialog dengan jalinan cerita. Ini disebut teater mula, embrio atau pra taeter, karena cara penyajian warahan ini belum selengkapnya memenuhi persyaratan seperti bentuk teater pada umumnya. Namun demikian  sebagai teater tradisional Lampung mempunyai unsur pokok taeter berupa adanya ceita lakon, pelaku (pewarah) yaitu yang membawakan lakon dan penonton atau pendengar, walaupun unsur itu tidak lengkap sebagai sebuah teater. Pergelaran warahan biasanya dilakukan di arena bebas. Pelakon atau pewarah biasanya orang yang pandai mewarah umumnya para orang tua yang berusia lanjut. Dalam berkisah biasanya para pewarah terkadang ditemani oleh seorang atau beberapa oarng yang memberikan ilustrasi atau sugesti untuk memperkuat kisah ceritanya. Pewarah biasanya tak menggunakan properti atau alat. Jadi si pewarah biasanya membawakan cerita dalam bahasa Lampung mimik dengan serius, ekspresif dan gerakan-gerakan pendukung yang menarik. Bentuk kesenian yang digolongkan dalam teater tutur ini lama disebut-sebut oleh para seniman teater, tepatnya penataran dan bimbingan tenaga teknis pemilik kebudayaan dan pekerja seni yang diadakan pada tahun 1976 dan tahun 1978 di Provinsi Lmpung, dengan menghadirkan tokoh-tokoh teater dari Direktorat kesenian Jakarta antara lain: A.Kasim Ahmad dan Bapak Yahya Ganda. Warahan yang masuk  cabang seni teater ini  sangat membutuhkan sentuhan tangan para pekerja seni, untuk menjadi karya seni agar dapat dinikmati masyarakat Lampung.

Penelitian Warahan  
Penelitian terhadap Warahan pun mulai dilakukan olek kaum akademis.Pada tahun 1992 Imas Sobariah dari STSI Bandung membahas warahan dalam skripsinya bertajuk ” Sandyakalaning Warahan di Lampung” dan denyut kehidupan warahan di Lampung. Penelitian Imas Sobariah yang mengangkatWarahan ini makin memperkokoh eksistensi seni teater ini. Terkini pada  tahun 2008 lalu, Linda , Mahasiswa Pasca Sarjana UGM asal Lampung , dari Program Studi Ilmu Kedokteran melakukan penelitian tentangwarahan sebagai media promosi kesehatan (promkes), melalui tesisnya yang mengusung tajuk: Pengaruh Media Kesenian Tradisional  Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Dalam Pengenalan Tersangka Tuberkolosis Paru(TB) di Kecamatan Telukbetung Barat, Kota Bandar Lampung. Menurut hasil penelitian Linda setelah diintervensi dengan media kesenian tradisional warahan, pengetahuan dan sikap kelompok warahan meningkat dan retensi bertahan hingga sebulan.. Sedangkan pada kelompok ceramah hanya dapat meningkatkan pengetahuan dalam jangka pendek. Hanya hingga postes pertama, sedangkan sikap masyarakat tidak berubah dalam pengenalan tersangka tuberkolosis  (TB) paru. Linda yang kini sudah berhasil mendapatkan gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dari Universitas Gajah Mada ini, menyimpulkan bahwa penyajian pesan TB Paru melalui media kesenian tradisional Warahan lebih meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat dalam pengenalan tersangka penderita Tuberkolosis paru dibandingkan dengan mengunakan media ceramah.

Media Industri Kreatif
Sekarang, seiring dengan perkembangannya warahan yang awalnya berfungsi  hanya sebagai media hiburan  kemudian dapat  dijadikan media sosialisasi dan informasi. Seni (teater) warahan dapat dijadikan salah satu  alternatif untuk promosi dan kampanye kesehatan atau program-program pemerintah lainnya. Teater warahan dapat diadopsi menjadi seni pertunjukan yang dapat dijadikan salah satu alternatif tontonan dan sekaligus tuntunan pada masyarakat. Warahan sebagai salah satu warisan budaya tak teraba (intangible) dapat dijadikan salah satu ikon budaya Lampung. Diharapkan warahan ke depan sebagai salah satu seni pertunjukan khas Lampung semakin eksis dan bertumbuhkembang di era industri kreatif yang makin penuh dengan tantangan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar